RAKYAT PENENTU PEMBERANTASAN KORUPSI

10 Des

RAKYAT PENENTU PEMBERANTASAN KORUPSI

(Budaya Jujur Langkah Awal Berantas Korupsi)

Oleh : Helmy Boemiya (Boey)

Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) mempunyai satu doa mengenai korupsi, ia berdoa semoga KPK segera dibubarkan. Jika KPK sudah dibubarkan berarti Indonesia sudah bebas korupsi”

Banyak orang mengungkapkan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang kaya raya, bangsa yang ramah. Sementara kita melihat bangsa Indonesia saat ini semakin keluar dari tujuan awal berdirinya bangsa Indonesia oleh para pendiri bangsa yang dituangkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang mana banyak sekali terjadi fenomena-fenomena yang membuat kita merasa sedih, menderita, dan gelisah. Bagaimana kita mampu menjelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang gemah ripah loh jinawi, bangsa yang tepo seliro, sebuah bangsa yang memiliki falsafah Pancasila,  jika melihat keadaan carut-marutnya bangsa Indonesia. Bahkan Koes Plus dalam lirik lagunya yang berjudul kolam susu, menyatakan “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” itu menandakan betapa bangsa Indonesia kaya akan sumber daya alam dan subur tanahnya. Namun yang terjadi masih banyak rakyat Indonesia tidak menikmati kekayaan bangsanya sendiri karena fenomena-fenomena yang datangnya seperti tsunami pada suatu wilayah.

Salah satu fenomena yang dimaksud ialah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) merusak kepribadian dan karakter bangsa Indonesia serta merusak segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur. Masih hangat dalam perbincangan, yang mana seorang mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini semakin mempertegas, bahwa seluruh lembaga negara terdapat oknum-oknum yang terjerat kasus korupsi, serta membuktikan korupsi merajalela disegala lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebelumnya terdapat kasus korupsi yang juga menyita perhatian masyarakat Indonesia dan membuat hilangnya harapan masyarakat terhadap hukum, yakni kasus Urip Tri Gunawan, Nazaruddin, Anggelina Sondakh, Hartati Murdaya, Zulkarnaen Jabar, Andi Malaranggeng, Djoko Susilo, dll. Kasus-kasus tersebut menandakan bahwa seluruh sektor terjangkit penyakit korupsi yang sulit dicarikan obatnya.

Tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan koruptor (oknum-oknum) di atas mencerminkan sudah tidak adanya lagi rasa malu, rasa cinta tanah air dan kejujuran hati insan kamil manusia. Bahkan yang membuat miris ialah ada yang menyatakan bahwa korupsi sudah menjadi tradisi dan budaya bangsa Indonesia secara tutun-menurun. Walaupun begitu, bangsa Indonesia khususnya rakyat, harus terus diberi optimisme dan harapan akan adanya perubahan ke-arah yang lebih baik. Perlu diyakni bahwa “Tuhan memberikan cobaan, masalah, dan penyakit pasti ada hikmah, solusi dan obatnya”. Sehingga rakyat Indonesia tidak perlu galau tapi yang diperlukan ialah gelisah, dengan gelisah kita akan berusaha terus mencari jawaban dari kegelisahan.

KPK, beberapa hari lalu menyatakan korupsi sudah regenerasi, maksudnya terdapat koruptor-koruptor muda yang bermain dan menjadi pelaku korupsi. Sangat berbahaya, jika pandangan masyarakat mengenai korupsi adalah budaya dan tradisi, karena dengan pandangan tersebut dapat melahirkan koruptor-koruptor baru. Manurut pakar antropologi Koentjaraningrat, Kebudayaan itu berasal dari bahasa sanskerta yakni buddhayah, yang dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal manusia. Sedangkan budaya berasal dari kata budhi yang berarti “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Kebudayaan berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Apakah korupsi merupakan budaya atau tradisi bangsa Indonesia ?

Pertanyaan tersebut menarik untuk dibahas, yang mana dalam fakta Indonesia dewasa ini, menampilkan banyak sekali pelaku korupsi yang berasal dari berbagai latar belakang profesi dan kedudukan serta dalam melakukannya tidak tampak rasa penyesalan, rasa malu dan rasa bersalah. Namun jika kita kembali pada pandangan Koentjaraningrat atau arti budaya itu sendiri jelas korupsi bukanlah budaya bangsa Indonesia, karena sebenarnya jujurlah budaya Indonesia. Sudah banyak para pakar dari berbagai bidang keilmuan memberikan pendapat, pandangan dan gagasan mengenai pemberantasan korupsi. Terjadi pembahasan yang menarik, yang mana terdapat pandangan bahwa sistem negara Indonesia yang salah atau bobrok sehingga mendorong atau membiarkan terjadinya korupsi. Kemudian ada yang memiliki pandangan berbeda, bahwa yang salah dan bobrok adalah manusia (orangnya) sehingga korupsi tidak terlepas karena manusia (orangnya) itu sendiri. Berbagai pandangan itu sebaiknya digabungkan, karena memberantas korupsi tidak bisa hanya dari satu aspek, tetapi dari berbagai aspek dan bidang. Memberantas korupsi itu tugas semua rakyat Indonesia, bukan hanya tugas KPK, Kepolisian dan Jaksa.

Kebudayaan dan budaya merupakan sarana yang tepat untuk memberantas korupsi, karena budaya bangsa Indonesia itu sendiri memiliki nilai-nilai yang sangat luhur. Salah satu nilai yang baik ialah Kejujuran (jujur), jujur merupakan nilai universal yang diakui oleh berbagai agama di dunia dan berbagai paham yang berkembang di dunia. Memberantas korupsi mulailah dari yang simple atau sederhana, yakni berlaku jujur. Jujur atau kejujuran adalah apa yang dilakukan seseorang akan sesuai dengan hati nuraninya. Orang yang jujur dapat memberikan keadilan dan keadilan mendatangkan kemuliaan abadi. Mahfud Md, dalam suatu forum mengatakan pemimpin Indonesia banyak yang tersandera, maka Mahfud menyarankan carilah pemimpin yang tidak tersandera, bersih, berani dan jujur. Bung Karno, pernah menyatakan dalam sebuah pidatonya, “satukan perkataan dan perbuatan” pernyataan tersebut menandakan bahwa jujur merupakan bersatunya antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan sama. Tidak melakukan suatu kebohongan, tidak membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada, dan meminjam bahasa pengkritik SBY ialah tidak melakukan pencitraan. Kemudian coba membayangkan jika yang bertindak dan berlaku jujur ialah masyarakat atau rakyat Indonesia, maka yang terjadi ialah korupsi akan binasa. Sebenarnya rakyat adalah sumber utama atau penentu untuk pemberantasan korupsi, karena apabila rakyat jujur korupsi kabur.

“Jujur itu sulit tapi lebih sulit lagi jika tidak jujur”

Pola pikir masyarakat mengenai perubahan haruslah dirubah, karena jangan pernah mengharapkan perubahan itu berasal dari pemerintah, sebab perubahan itu datangnya dari rakyat itu sendiri. Logika sederhananya ialah orang yang jadi pejabat atau berkedudukan sebagai pejabat negara dan bekerja di pemerintah dan pemerintahan semua adalah rakyat dan awalnya berasal dari rakyat jelata. Sehingga yang perlu ditekankan atau dipertajam ialah pola pikir masyarakat atau rakyat Indonesia itu sendiri. rakyat adalah motor penggerak perubahan dan penentu pemberantasan korupsi di Indonesia. Coba lihat terhadap kriminalisasi KPK yang terjadi beberapa waktu lalu, Rakyat Indonesia menjadi garda depan yang mendukung KPK untuk terus memberantas korupsi, rakyat Indonesia menjadi tameng atau benteng yang kokoh bagi KPK dari serangan-serangan berbagai pihak yang berusaha melemahkan kinerja KPK.

Rakyat Indonesia berlaku jujur, maka koruptor kabur bukanlah ungkapan atau pernyataan yang mustahil, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. pemikiran bottom up menjadi solusi untuk membawa Indonesia mencapai tujuan yang diinginkan, karena jika ingin membangun itu asalnya dari bawah atau pondasinya harus kuat, jika ingin memberi contoh atau menjadi panutan (suri tauladan) asalnya dari atas atau pimpinan (pemimpin). Dalam kenegaraanpun daerah merupakan pilar utama untuk kemajuan NKRI, yang mana dewasa ini bermunculan figur-figur atau pemimpin yang jujur dan mampu menjadi harapan baru asalnya dari desa atau daerah, contohnya Jokowi, Ahok, Risma, Dahlan Iskan, Mahfud Md, Abraham Samad dll. Sudah sepatutnya dalam pemberantasan korupsi rakyat menjadi penentu. Karena laporan masyarakatlah KPK dapat memperoleh informasi-informasi mengenai transaksi atau tindak pidana korupsi.

Kembali pada ungkapan atau doa dari Cak Nun di atas, kiranya manusia tidak lupa terhadap penciptanya dan melibatkan kuasa Tuhan dalam segala urusan kehidupannya termasuk dalam pemberantasan korupsi. Berfikir rakyat sebagai penentu pemberantasan korupsi artinya menjadi manusia yang sesungguhnya yakni manusia pemelihara dan perawat bumi, kemudian dilanjutkan dengan tindakan atau perbuatan manusia itu sendiri untuk terus mencari manusia sesungguhnya dengan cara belajar, berusaha, dan berdoa, masalah hasil kita serahkan sama Tuhan Yang Maha Segalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: