Guru dapat datang dari mana saja !!!

31 Okt

semar ilmu gus-dur21

oleh

Helmy Boemiya

Percakapan khas Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun (CN), begitu indah dalam bertutur, CN bertutur bahwa “berguru itu dapat datang dari mana saja”, dia berkata, dalam beberapa hal utamanya mengenai Fisika, Sabrang alias Noe Letto menjadi gurunya, termasuk istrinya Novia Kolopaking atau mbak via, juga menjadi gurunya dlam beberapa hal. Kemudian terlintas dalam benak pikiran penulis, mencoba menerapkan atau mengimplemntasikan pola berfikir yang dipaparkan oleh CN.

Sebenarnya motivasi terbaik dan termurah serta terhebat manusia itu terletak dalam dirinya sendiri. Coba kita pelajari, saat kita membersihkan ruang kamar, hal pertama yang dilakukan ialah berfikir apa yang harus dikeluarkan terlebih dahulu, lalu mulai dari mana kamar tersebut dibersihkan. Selanjutnya perlahan-lahan barang-barang yang ada dikeluarkan terlebih dahulu, ruangan dikosongkan, setelah itu mulai membersihkan dengan menyapu lantai, membersihkan debu yang berada pada sudut-sudut ruangan, selanjutnya mengepel lantai dan menata kembali barang-barang yang ada.

Hikmah yang dapat dipetik dari kejadian tersebut ialah, kita berguru pada benda mati yang ada diruang kamar dan aktivitas membersihkan ruang kamar. Kita dapat mempelajari bahwa di dalam kehidupan terdapat banyak perangkat-perangkat, ada yang sudah kotor, baru dan masih layak dipakai, kemudian hal tersebut perlu dibersihkan agar tidak mengganggu dan memulai sesuatu dengan suasana baru yang lebih fresh. Benda mati pun perlu perawatan, begitu juga dengan pola kehidupan kita sebagai manusia perlu kontinuitas dan perawatan. Aktivitas membersihkan ialah kegiatan memperbaiki hal-hal yang dianggap telah melampaui dari ketentuan dan kadar yang ada. Dalam kehidupan manusia kita harus senantiasa menata ulang cara hidup, menjalani hidup dan mencapai akhir hidup yang indah. Hidup itu indah jika kita berfikir indah “cogito ergo sum”.

Guru selanjutnya ialah anak kecil berumur 7 Tahun, dia pagi-pagi buta bangun, kemudian mandi dan bersiap berpakaian untuk pergi ke sekolah, siang hari dia pulang istirahat sejenak, pukul 2 hingga pukul 5 dia belajar ngaji atau memperdalam agama, selepas magrib dia kursus untuk memperdalam ilmu dunia, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu kata Bang Iwan Fals. Hikmah yang dapat kita petik ialah semangat yang ada dalam diri anak kecil itu, seumur itu dia sudah begitu padat jadwalnya, namun dia terus melakukan rutinitas itu hingga nanti terdapat rutinitas baru lagi, terlihat kecil atau sepele, namun kita dapat belajar rasa dan jiwa semangat, kita syukuri hingga ini kita mampu bernafas, sehingga kita mampu hidup dan bergerak, rasa semangat harus ditanam pada jiwa kita, dengan cara melakukan apa yang bisa dilakukan dengan penuh usaha kerja keras, masalah hasil itu urusan yang diatas.

Guru selanjutnya ialah tukang ojek, tukang ojek tersebut tinggal dan menetap di Ibu Kota NKRI yakni Jakarta, dia telah menetap selama 25 tahun lebih, dia bertutur mempunyai satu istri dan 3 anak, dia bersykur mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi walau berprofesi sebagai Tukang Ojek, penghasilan sehari yang tak tentu ternyata mampu menghidupi keluarganya, dia bertutur, bahwa rezeki itu sudah ada yang atur, namun kita harus iktiar dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya dan tidak berlebihan dalam menarik harga, karena sesuatu hal tersebut harus sesuai dengan kadar yang sudah ditetapkan, jangan berlebihan dan mengambil kesempatan dari keluguan orang lain.

Hikmah yang dapat diperoleh dari kisah diatas ialah keiklasan dan sabar seorang tukang ojek dalam menghidupi keluarganya, keiklasan berbuah rezeki yang halal, kesabaran berbuah rezeki yang datang tanpa putus dengan mampu menyekolahkan anaknya,,, sabar dan iklas ialah ilmu yang sulit diterapkan oleh manusia, namun jika sudah mendapat derajat tersebut, manusia itu menjadi manusia yang sesungguhnya ialah hamba Allah “abdullah”.

Semua kisah atau cerita diatas diambil dan dihayati dari fakta empiris yang penulis temukan dan rasakan, sehingga muncul suatu kesimpulan, bahwa memang guru itu dapat datang dari mana saja, baik itu berupa benda mati, benda hidup, kegiatan atau rutinitas, profesi dan banyak hal lainnya. Guru tidak hanya diruang kelas sekolah dan belajar tetapi dapat datang dari mana saja, bukankah Tuhan telah berfirman , “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menciptakan manusia dari segumpal darah dan mengajarkan pada manusia dari pena dan kalam” Kebenaran sejati datangnya hanya dari Tuhan, namun manusia harus terus berusaha untuk mencapai kebenaran sejati tersebut dan kesempurnaan hidup sebagai manusia sesungguhnya manusia. Kepada siapa lagi kita mengadu dan menyapa, kepada siapa lagi kita nantinya semua kembali,,, mari belajar merenung karena puncak keilahian seseorang ialah ketika cara berfikirnya sesuai dengan apa yang diucapkan dan sesuai dengan apa perbuatan atau tindakan yang dilakukan.

“tidak ada kebaikan yang sia-sia”

Boey Rakyat Jelata (BRJ)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: